Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts Today

Kebijakan Pertanian SBY Masih di Awang-awang

Written By Unknown on Rabu, 24 Oktober 2012 | 11.24

INILAH.COM, Jakarta - Tidak jelasnya arah kebijakan sektor pertanian kembali mendapat kritikan PDIP. Kebijakannya pertanian saat ini lebih bersifat parsial dan tambal sulam.

Kepada wartawan di DPR, Senin (23/10/2012), anggota Komisi VI asal PDIP, Sukur Nababan menyebut pemerintahan SBY gagal di sektor pertanian. ''PDIP melihat, UU Pangan belum memberikan jaminan untuk petani. Demikian pula program-programnya,'' ujar Sukur.

Dia mempertanyakan efektivitas kebijakan ekstensivikasi lahan, pupuk bersubsidi serta sejumlah program BLT (Bantuan Langsung Tunai) bagi petani. ''Pemerintah SBY bercita-cita memperluas lahan pertanian baru sebesar 7,3 juta hektar. Ini kebijakan di awang-awang. Demikian pula bagi-bagi pupuk bersubsidi dan BLT untuk petani, bukanlah solusi. Bahkan bisa membuka korupsi baru,'' tuturnya.

Daripada mengembangkan kebijakan ala 'sinterklas', Sukur menyarankan agar pemerintah memiliki lembaga yang berwenang dalam menjaga stok pangan serta stabilitas harga sembako.

''Bentuknya bisa dengan membentuk lembaga baru atau lebih memberdayakan Bulog. Apabila harga bahan pangan serta sembako bisa dijamin stabil, petani pun lebih bersemangat dan bergairah. Ini akan menumbuhkan sentra-sentra pertanian secara alamiah. Yang pada akhirnya membuat Indonesia bisa berswasembada lagi. Seperti di era Orba lalu,'' paparnya.

Ia mengaku heran dengan arah kebijakan pemerintahan SBY yang cenderung politis. Lebih banyak bernuansa untuk pencitraan tanpa melihat dampak langsungnya kepada masyarakat.

''Pemimpin itu harus berani terluka. Berani menetapkan kebijakan yang tidak populer sekalipun. Namun tujuan jangka panjangnya jelas. Untuk memakmurkan rakyatnya,'' tandas Sukur. [tjs]


11.24 | 0 komentar | Read More

Kenaikan Harga BBM Tetap Seizin DPR

INILAH.COM, Jakarta - Pemerhati kebijakan publik, Agus Pambagio mengungkapkan tahun depan pemerintah harus menaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM).

"Untuk tahun ini memang tidak bisa menaikkan harga BBM karena ada undang-undang APBN," katanya saat dihubungi INILAH.COM, Selasa (23/10/2012).

Menurutnya, anggaran subsidi energi sebesar 20% lebih dari APBN merupakan keputusan yang tidak efisien. "Ini jelas gak efektif dan harusnya dialihkan yang lebih bermanfaat," ucapnya.

Namun kenaikan BBM, katanya, tidak bisa dilakukan oleh pemerintah saja, seperti yang dikatakan Menteri Keuangan Agus Martowardojo yang bisa menaikan BBM tampa persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). "Kenaikan BBM tetap harus melalui keputusan DPR, tidak bisa langsung dilakukan pemerintah sendiri," ujarnya.

Lebih lanjut Agus mengungkapkan, pemerintah harus lebih memperhatikan infrastruktur karena bisa meningkatkan perekonomian masyarakat. "Anggaran subsidi dialihkan ke infrastruktur, ini sangat meningkatkan ekonomi masyarakat, mereka bisa bekerja dan menghasilkan pendapatan yang lebih. Selain itu bisa dialihkan ke subsidi langsung, seperti ke tiket kereta, jadi harga bisa lebih murah," katanya.

Menteri Keuangan Agus Martowardojo kemarin mengklaim dapat menaikkan harga BBM bersubsidi tanpa memerlukan persetujuan DPR, dengan adanya pasal 8 ayat 10 dalam UU APBN 2013.

"Pasal 8 ayat 10 memang isinya memberi kewenangan untuk melakukan penyesuaian harga energi, apabila asumsi makro ataupun parameter yang ada di APBN terjadi perubahan," kata Menkeu di DPR.

Pasal 8 ayat 10 UU APBN 2013 menyatakan belanja subsidi sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 dan ayat 2 dapat disesuaikan dengan kebutuhan realisasi pada tahun anggaran berjalan untuk mengantisipasi deviasi realisasi asumsi makro, dan/atau perubahan parameter subsidi, berdasarkan kemampuan keuangan negara. [hid]


11.24 | 0 komentar | Read More

Jual SUN, Pemerintah Serap Utang Rp9 T

INILAH.COM, Jakarta - Pemerintah berhasil menyerap dana senilai Rp9 triliun melalui lelang empat seri surat utang negara (SUN) untuk mendukung APBN 2012.

Demikian mengutip keterangan Ditjen Pengelolaan Utang Kementerian Keuangan, Selasa (23/10/2012). Untuk penawaran yang masuk dalam lelang empat seri SUN itu mencapai Rp17,9 triliun.

Pemerintah memenangkan sebesar Rp200 miliar atas seri penerbitan kembali SPN12131007 dengan imbal hasil rata-rata tertimbang 4,56562 persen.

Penawaran untuk seri yang memiliki tanggal jatuh tempo 7 Oktober 2013 ini mencapai Rp1,5 triliun dengan imbal hasil tertinggi yang masuk 4,8125 persen dan terendah 4,46875 persen.

Kemudian, pemerintah memenangkan seri penerbitan baru FR0066 sebesar Rp2,55 triliun dengan imbal hasil rata-rata tertimbang 5,38643 persen.

Penawaran untuk seri yang memiliki tanggal jatuh tempo 15 Mei 2018 dengan tingkat kupon 5,25 persen ini mencapai Rp4,3 triliun dengan imbal hasil tertinggi yang masuk 5,65625 persen dan terendah 5,18750 persen.

Pemerintah memenangkan seri penerbitan kembali FR0063 sebesar Rp3,25 triliun dengan imbal hasil rata-rata tertimbang 5,72857 persen.

Penawaran untuk seri ini yang memiliki tanggal jatuh tempo 15 Mei 2023 dengan tingkat kupon 5,625 persen ini mencapai Rp4,92 triliun dengan imbal hasil tertinggi yang masuk 5,875 persen dan terendah 5,625 persen.

Pemerintah juga memenangkan seri penerbitan kembali FR0065 sebesar Rp3 triliun dengan imbal hasil rata-rata tertimbang 6,51436 persen.

Penawaran untuk seri yang memiliki tanggal jatuh tempo 15 Mei 2033 dengan tingkat kupon 6,625 persen ini mencapai Rp7,23 triliun dengan imbal hasil tertinggi yang masuk 6,75 persen dan terendah 6,46875 persen.

Jumlah dimenangkan pemerintah sebesar Rp9 triliun tersebut lebih tinggi dari target indikatif yang ditetapkan sebelumnya sebesar Rp6 triliun.


11.24 | 0 komentar | Read More

UMKM Dilupakan Sekaligus Diandalkan

INILAH.COM, Jakarta - Seorang ekonom, yang mendukung pasar bebas, mengatakan pemerintah dulu lebih memprioritaskan sektor industri ketimbang pertanian karena lebih banyak menyerap tenaga kerja.

Saya termangu mendengar pernyataan itu dan tiba-tiba teringat kepada negara-negara yang masih sangat mempedulikan sektor pertanian seperti Amerika Serikat, Australia, Jepang bahkan Taiwan, sekalipun industri manufakturnya hebat. Bagi mereka sektor pertanian bukan hanya sebatas luas lahan garapan dan produk primernya, namun juga produk turunannya serta makna strategis dari produk tersebut.

Indonesia dewasa ini terombang ambing. Tidak piawai di sektor industri bernilai tambah, apalagi di sektor pertanian. Kecenderungan ini berjalan terus dari tahun ke tahun. Ujung-ujungnya adalah ketergantungan kepada negara lain.

Sangat ironis menyaksikan hingar bingar dalam dunia otomotif. Agen Tunggal Pemegang Merk (ATPM) menampilkan mobil-mobil mutakhir berteknologi tinggi dan berpenampilan indah. Ada yang dirakit di Indonesia, namun ada pula yang diimpor. Konsumen tidak peduli, bila cocok di hati dan harga, mobil berpindah tangan.

Makin banyak mobil terjual, makin banyak pemerintah mendapat pajak. Makin banyak pula penduduk yang memperoleh manfaat efek berganda dari bisnis otomotif ini. Begitu logika sederhananya.

Perjalanan pemikiran terkadang cuma sampai disitu. Malas untuk meneliti berapa devisa yang perlu dikeluarkan untuk mengimpor kendaraan beroda empat dan roda dua beserta suku cadangnya. Adakah transfer of pricing? Mengapa dari tahun ke tahun hanya merakit dan mayoritas penjualannya di pasar domestik? Tidakkah bisa menjadikan Indonesia sebagai basis ekspor?

Lihat pula produk-produk farmasi. Berapa persen kandungan impor dari obat-obatan yang dibuat di dalam negeri? Belum lagi industri susu dan produk turunannya?

Negara maju sudah mengkapling-kapling dunia ini. Tidak boleh satu negarapun yang berjalan melampaui strategi mereka. Negara berkembang hanya boleh bergerak di sektor-sektor yang ketinggalan teknologinya, ekspornya didominasi sumber daya alam dan menjadi halaman rumahnya sebagai pasar bagi produk-produk asing. Supaya kelihatan legal maka dibuat berbagai perjanjian bilateral dan multilateral.

Jangankan yang terkait dengan produksi, penggunaan mata uang dalam transaksi juga tak boleh keluar pakem. Harus mata uang tertentu, terutama dolar AS, yang secara teknis sebenarnya tak ada nilainya. Cuma persepsi, beda ketika masih berlaku perjanjian Bretton Woods.

Presiden Irak Saddam Hussein sebelum dijatuhkan pernah menyatakan niatnya untuk tidak menggunakan dolar AS dalam transaksi bisnis minyak mentah. Dia pun dijatuhkan setelah diketahui tidak mempunyai senjata pemusnah massal.

Pengkaplingan juga terjadi di sektor pertanian. Perusahaan-perusahaan multinasional mendominasi, mulai dari pembibitan, proses produksi hingga pemasaran. Pangan sudah menjadi produk strategis yang juga dapat dispekulasikan, seperti minyak mentah. Bukankah Indonesia blingsatan bila harga kedelai, beras dan gandum makin mahal?

Indonesia yang relatif punya segala-galanya dibuat tak berdaya. Lautnya luas tetapi kapal nelayan asing leluasa mengambil ikannya. Percaya atau tidak, terkadang kapal asing itu diawaki pelaut Indonesia yang kebetulan bekerja disitu.

Perairan Indonesia merupakan salah yang terpanjang di dunia, namun garam, terutama untuk industri, masih harus diimpor. Dalihnya lantaran tak berkualitas. Aneh dari dulu tak berkualitas.

Alhasil kebanyakan produk yang diekspor umumnya masih didominasi bahan mentah berbasiskan sumber daya alam. Suatu perusahaan membanggakan telah mengekspor 15 juta ton batubara. Tak sadarkah bahwa dengan batubara sebanyak itu, telah lenyap bukit yang lebih tinggi dari Wisma 46 (250 meter) dan malahan juga tercipta lubang yang lebar dan dalam, dimana truck terlihat seperti semut.

Kalau mau jujur berapa perolehan bersih hasil ekspor itu setelah repatriasi keuntungan turut dihitung? Lalu, bagaimana nasib generasi mendatang yang kehilangan cadangan energi dan ketahanan pangan?

Yang diabaikan, yang berjasa

Bagi mereka yang melihat pameran produk ekspor Indonesia, seperti Trade Export Indonesia yang berakhir 21 Oktober lalu, tentu bakal terharu. Di situ ada pahlawan-pahlawan kesejahteraan yang jauh dari hingar bingar politik, jerat hukum dan pengabaian terhadap kelestarian lingkungan.

Sekalipun nilainya kecil, tetapi mereka dengan bahan baku 100% domestik, mampu mengekspor, menghasilkan devisa, serta memberi penghidupan kepada para karyawan dan keluarganya.

Ada eksportir kopi luwak yang karena jumlahnya sedikit dikirim lewat udara. Ada produsen sepatu yang bila dijual di Paris, Prancis harganya Rp5 juta per pasang. Di bagian lain, terpajang ratusan makanan laut yang dibungkus dalam kemasan indah. Terdapat pula kerajinan yang terbuat dari rotan atau tenun, tak ketinggalan batik.

Dalam perbincangan dengan para pengusaha di atas, nampak bahwa mereka benar-benar usahawan sejati yang fokus dengan bisnisnya. Mereka maju terus mencari peluang bisnis, sekalipun ada atau tak ada pertolongan dari birokrat pemerintah.

Sekalipun Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) terbukti tahan krisis serta mampu menghasilkan devisa, namun pertolongan eksternal lebih seru di tingkat seremoni sedangkan dalam perbincangan umum, UMKM menjadi obyek politik.

UMKM tak bergerak secepat yang diharapkan lantaran para 'dewa penolong'-nya tak berjiwa bisnis melainkan berjiwa birokrat atau akuntan. Maka tak mengherankan bila persoalan yang dihadapi dari masa ke masa itu-itu saja.

Dalam International Microfinance Conference 2012 di Yogyakarta terungkap problem utama yang dihadapi UMKM adalah lemahnya koordinasi antar instansi serta sektor pembiayaan yang kelewat ribet. Masalah-masalah lama itu sesungguhnya berpangkal pada pola pikir birokrat bahkan bankir.

Mereka perlu mengadakan terobosan yang berdasarkan kepada ketajaman daya analisa dan keyakinan. Bisnis ayam goreng Mbok Berek misalnya, tak akan sebesar sekarang jika bankir I Nyoman Muna tak punya keberanian keluar dari pakem.

Pemenang hadiah Nobel Ekonomi 2006 Muhammad Yunus dari Bangladesh datang ke konferensi itu. Dia pun pernah memberi ceramah dalam acara Presidential Lectures di depan para pejabat Indonesia, namun gaungnya tak kuat lantaran jiwa para pendengarnya relatif tak satu getaran dengan para wiraswasta.

Di Taiwan masyarakatnya berkeyakinan, yang terbaik adalah menjadi tuan bagi diri sendiri. Maka di sana banyak UMKM dengan pertolongan pemerintah. Begitu banyaknya hingga UMKM digambarkan sebagai kluster ribuan kura-kura dalam perekonomian nasional. Ketika terjadi resesi dunia, digambarkan sebagai topan yang menjatuhkan iklan luar ruang, ekonomi Taiwan bisa bertahan karena banyaknya UMKM.

Kalau pasaran ekspor tradisional Indonesia melemah, maka yang kemudian dicanangkan adalah perlunya mencari pasaran ekspor baru. Begitu melulu!


11.24 | 0 komentar | Read More

Sumberdaya Sewatama Tawarkan Obligasi Rp800 M

Written By Unknown on Selasa, 23 Oktober 2012 | 11.24

INILAH.COM, Jakarta - PT Sumberdaya Sewatama akan menawarkan obligasi I tahun 2012 senilai Rp800 miliar dan sukuk ijarah PT Sumberdaya Sewatama I tahun 2012 sebanyak-banyaknya Rp200 miliar.

Obligasi ini terdiri dari dua seri yaitu seri A berjangka waktu tiga tahun dan seri B berjangka waktu lima tahun. Bunga obligasi dibayarkan setiap triwulan sejak tanggal emisi dengan bunga obligasi pertama akan dibayarkan pada 26 Februari 2013, sedangkan bunga obligasi terakhir pada 28 November 2015 untuk obligasi seri A dan 28 November 2017 untuk obligasi seri B.

Demikian seperti dikutip dari prospektus singkat yang diterbitkan, Selasa (23/10/2012).

Dana hasil penawaran, baik obligasi dan sukuk, sekitar 60% akan digunakan untuk pembayaran sebagian utang PT Bank DBS Indonesia % dan 40% untuk modal kerja yaitu pembelian persediaan suku cadang.

PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) memberikan peringkat idA untuk obligasi dan idA syariah.

Yang bertindak sebagai penjamin pelaksana emisi obligasi dan sukuk ijarah antara lain PT DBS Vickers Securities Indonesia dan PT Mandiri Sekuritas. Sementara itu, PT Bank CIMB Niaga Tbk bertindak sebagai wali amanat.

Obligasi dan sukuk ijarah ini tidak dijamin dengan suatu agunan khusus berupa barang bergerak maupun tidak bergerak, atau pendapatan milik Perseroan dalam bentuk apapun.

Adapun jadwal sementara penawaran obligasi antara lain masa penawaran awal pada 24 Oktober-7 November 2012, tanggal efektif pada 20 November 2012, masa penawaran umum pada 22-23 November 2012, penjatahan pada 26 November 2012, distribusi secara elektronik pada 28 November 2012, dan pencatatan di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 29 November 2012.

Perseroan mencatatkan laba bersih menjadi Rp91,75 miliar hingga semester pertama 2012 dari semester pertama 2011 sebesar Rp75,38 miliar. Pendapatan perseroan naik menjadi Rp591,47 miliar hingga semester pertama 2012 dari semester pertama 2011 sebesar Rp477,93 miliar. [ast]


11.24 | 0 komentar | Read More

Emas Antam Naik Rp6.000 per Gram

INILAH.COM, Jakarta - Harga emas PT Aneka Tambang Tbk (Antam) pada Selasa (23/10/2012) kembail naik, dengan harga logam mulia ukuran 1 gram berada di level Rp580.200.

Berdasarkan daftar harga yang dilansir www.logammulia.com, hampir semua stok emas batangan tersedia pada Unit Bisnis Pengolahan dan Pemurnian (UBPP) PT Antam. Kecuali emas ukuran 50 gram dan 250 gram yang tidak tersedia.

Menurut daftar harga yang dirilis pada pukul 09.31 WIB, harga emas ukuran 1 gram naik Rp6.000 ke level Rp580.200. Demikian pula harga beli kembali (buy back) emas yang naik Rp6.000 ke level Rp511.000 per gram.

Harga emas batangan 2 gram menguat Rp12.000 ke level Rp1.120.400; Harga emas batangan 2,5 gram naik Rp15.000 ke level Rp1.390.500 dan harga emas batangan 3 gram naik Rp18.000 ke level Rp1.660.600;

Tidak berbeda dengan harga emas batangan 4 gram yang meningkat Rp24.000 ke level Rp2.200.800; Kemudian harga emas batangan 5 gram yang naik Rp30.000 ke level Rp2.751.500, emas batangan 10 gram yang naik Rp60.000 ke level Rp5.462.000 dan harga emas batangan 25 gram yang naik Rp150.000 ke level Rp13.580.000.

Sementara harga emas batangan 50 gram juga naik Rp300.000 ke level Rp27.095.000; Sedangkan emas batangan 100 gram naik Rp600.000 ke level Rp54.140.000 dan emas batangan 250 gram yang terangkat Rp1.500.000 ke level Rp135.250.000. [ast]


11.24 | 0 komentar | Read More

OJK Yakinkan Presiden, Siap Beroperasi Awal 2013

INILAH.COM, Jakarta- Dewan Komisioner (DK) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meyakinkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) siap beroperasi pada 1 Januari 2013.

"DK OJK melaporkan updating repot tentang kegiatan DK OJK selama masa transisi ini, di antaranya terkait organisasi OJK yang telah selesai dilakukan, standar prosedur kerja dan infrastruktur, serta menyakinkan bahwa OJK siap beroperasi 1 Januari 2013," ujar Ketua Tim Transisi OJK Dumoli F. Pardede dalam keterangan tertulisnya, Selasa (23/10/2012).

Dia menyampaikan OJK telah melakukan audiensi ke Presiden SBY di Gedung Agung Yogyakarta selama satu jam kemarin.

Selain itu, lanjutnya, dalam audiensi tersebut OJK juga telah melaporkan kepada Presiden mengenai kantor sementara DK OJK di Komplek Bidakara. "Juga dilaporkan kesiapan DK OJK berpartisipasi dalam Forum Koordinasi Stabilitas Sistem Keuangan bersama sama dengan Kemenkeu, BI dan LPS," tuturnya.

OJK juga menginformasikan kesiapan DK OJK menerima pengalihan pegawai dari Bapepam-LK dan BI, serta melaporkan tentang pengkajian mengenai rencana pungutan ke industri di tahun depan. [ast]


11.24 | 0 komentar | Read More

RI Ikut Pengaruhi Keseimbangan Ekonomi Baru Dunia

INILAH.COM, Jakarta - Indonesia merupakan satu dari tujuh negara berkembang Asia yang mengkontribusi hampir 50% pertumbuhan (PDB) dunia saat ini.

"Kontribusi negara berkembang Asia terhadap PDB dunia menuju 50%. Tapi 90% dari negara itu dihasilkan oleh hanya tujuh negara termasuk Indonesia sebagai negara nomor tiga setelah China dan India," ujar Wakil Menteri Keuangan Mahendra Siregar di Jakarta, Selasa (23/10/2013).

Menurutnya, kondisi tersebut merupakan keseimbangan baru ekonomi dunia. "Itu menyebabkan posisi tawar kita di tingkat global dan regional," ucapnya.

Karenanya, lanjut Mahendra, Indonesia tidak perlu cemas dalam masa transisi ekonomi baru tersebut. "Itu karena posisi Indonesia berada di tengah-tengah yang mempengaruhi perubahan dan transisi keseimbangan baru ekonomi dunia," tuturnya.

Dia menambahkan Indonesia bisa terus bertahan di tengah krisis yang terjadi saat ini dengan mengedepankan keseimbangan domestik. "Ini harus dikelola secara berkelanjutan," katanya.

Selain ekonomi domestik, peningkatan belanja modal juga akan ikut menjaga pertumbuhan ekonomi Indonesia. Selain itu juga pertumbuhan investasi yang secara riil akan memberi pertumbuhan pendapatan negara. Kemudian pertumbuhan kredir perbankan dan pembangunan infrastruktur juga ikut membantu menjaga pertumbuhan ekonomi ke depan.

Mahendra menegaskan untuk mempertahankan pertumbuhan ekonomi ke depan setidaknya ada 3 pekerjaan rumah yang besar yang harus dlakukan, yaitu mengatasi masalah subsidi BBM, pembenahan infratruktur, dan memperbaiki governance dangan mengatasi korupsi. [ast]


11.24 | 0 komentar | Read More

Soal Mahakam, Salah Kalau Meragukan Pertamina

Written By Unknown on Senin, 22 Oktober 2012 | 11.24

DARI sederet nama pengamat minyak dan gas yang mendukung Pertamina mengelola Blok Mahakam, terselip nama Pri Agung Rakhmanto, Direktur Eksekutif ReforMiner Institute. Apa alasan Pri mendukung? Apa manfaatnya jika Pertamina mengelola Blok Mahakam? Iwan Purwantono dari InilahREVIEW mewawancarai Pri Agung Rakhmanto. Petikannya:

Apa alasan Anda menginginkan agar Pertamina yang mengelola Blok Mahakam?

Secara prinsip, saya sangat mendukung Pertamina menggarap Blok Mahakam. Alasannya, bukan semata-mata soal ekonomi ataupun nasionalisme saja. Tetapi bagaimana kita memberikan kesempatan kepada BUMN agar bisa berkembang.

Bila Pertamina diberi kepercayaan mengelola Blok Mahakam, artinya ini menambah kocek baik Pertaminamaupun negara. Dengan begitu, Pertamina bisa membangun industri migas di beberapa blok. Alhasil, industri migas bisa semakin berkembang secara mandiri, tanpa campur tangan asing lagi. Sehingga kekayaan alam Indonesia bisa memberikan kemakmuran bagi rakyat.

Masalahnya, bagaimana peluang Pertamina?

Kalau melihat realitas, peluangnya kecil. Pemerintah lebih condong kepada perpanjangan kontrak Blok Mahakam. Ini untuk kepentingan jangka pendek. Enggak perlu dijelasin, Anda sudah tahulah ke mana arahnya.

Misalnya, apa?

Misalnya terkait kepentingan geopolitik. Akibat kerasnya tekanan dari luar, akhirnya pemerintah manut saja. Tentu, pihak-pihak asing akan melakukan sejumlah lobi untuk itu, agar operator Blok Mahakam bisa diperpanjang.

Soal dukungan DPR, sejatinya tidak ada masalah. Yang saya maksud, mereka (DPR) tentu sudah tahu kok, apa untung dan ruginya kalau Blok Mahakam diperpanjang. Sekarang, tinggal lebih kuat yang mana, hati nurani atau kepentingan?

Pertamina sudah layak mengelola Blok Mahakam?

Lho, Blok Mahakam kan sudah produksi. Jadi, Pertamina tinggal nerusin saja. Kalaupun mulai sejak awal, Pertamina punya kemampuan kok. Sekarang saja, Pertamina berani garap blok minyak di beberapa negara Timur Tengah. Terahir Pertamina handle Blok West Madura Offshore (WMO) dan Blok Offshore North West java (ONWJ). Jadi, salah kalau masih meragukan kemampuan Pertamina.

Apa manfaatnya bila Pertamina dipercaya mengelola Blok Mahakam?

Banyak sekali. Paling tidak, kita bisa merasakan menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Selama ini, perusahaan asinglah yang menguasai kekayaan alam di bidang migas. Posisi Pertamina selalu kalah. Apa salahnya kalau sekarang Pertamina diberikan kepercayaan yang lebih.

Keuntungan lainnya, pemerintah bisa lebih mudah dalam menentukan arah kebijakan energi. Karena, pemerintah bisa menentukan volume gas untuk ekspor dan volume gas untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Ingat lho, Blok Mahakam memiliki kandungan gas yang sangat besar. Produksinya mampu memenuhi 35% kebutuhan dalam negeri.

Artinya, Blok Mahakam harus direbut?

Idealnya, begitu. Kontrak Blok Mahakam yang sudah berumur 30 tahun, tidak perlu diperpanjang lagi. Dengan begitu, otomatis blok yang kaya gas itu, statusnya menjadi milik negara. Selanjutnya, operasional diserahkan ke Pertamina. Apabila ada perusahaan asing yang berminat, kasih yang inkremental saja. Suruh luar negeri beli saja gasnya. Sementara, Pertamina diberikan kesempatan untuk mengelolanya secara maksimal. Saya kira, dampaknya cukup dahsyat.

Selengkapnya, artikel ini bisa disimak di majalah InilahREVIEW edisi ke-08 Tahun II, yang terbit Senin 22 Oktober 2012. [tjs]


11.24 | 0 komentar | Read More

Emas Antam Turun Rp7.000. Saatnya Beli?

INILAH.COM, Jakarta - Harga emas PT Aneka Tambang Tbk (Antam) pada Senin (22/10/2012) melanjutkan koreksi, dengan harga logam mulia ukuran 1 gram berada di level Rp574.200.

Berdasarkan daftar harga yang dilansir www.logammulia.com, semua stok emas batangan tersedia pada Unit Bisnis Pengolahan dan Pemurnian (UBPP) PT Antam.

Menurut daftar harga yang dirilis pada pukul 09.31 WIB, harga emas ukuran 1 gram turun Rp7.000 ke level Rp574.200. Demikian pula harga beli kembali (buy back) emas yang turun Rp7.000 ke level Rp505.000 per gram.

Harga emas batangan 2 gram turun Rp14.000 ke level Rp1.108.400; Harga emas batangan 2,5 gram turun Rp17.500 ke level Rp1.375.500 dan harga emas batangan 3 gram melemah Rp21.000 ke level Rp1.642.600;

Tidak berbeda dengan harga emas batangan 4 gram yang turun Rp28.000 ke level Rp2.176.800; Kemudian harga emas batangan 5 gram yang melemah Rp35.000 ke level Rp2.721.500, emas batangan 10 gram yang terkoreksi Rp70.000 ke level Rp5.402.000 dan harga emas batangan 25 gram yang turun Rp175.000 ke level Rp13.430.000.

Sementara harga emas batangan 50 gram juga turun Rp350.000 ke level Rp26.795.000; Sedangkan emas batangan 100 gram melemah Rp700.000 ke level Rp53.540.000 dan emas batangan 250 gram yang terkoreksi Rp1.750.000 ke level Rp133.750.000.

Di sisi lain, harga emas internasional menurut CNBC.COM terpantau naik US$0,5 atau 0,03% ke level US$1.724,50 per troy ons (1 troy ons setara dengan 31,1 gram). [ast]


11.24 | 0 komentar | Read More
techieblogger.com Techie Blogger Techie Blogger